PURWODADI, Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Purwodadi bersama Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan dan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (monev) agroforestry tebu di kawasan hutan petak 86 RPH Bandung, BKPH Bandung, pada Senin (27/04).
Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya bersama dalam memastikan pengelolaan agroforestry berjalan optimal, produktif, serta tetap menjaga prinsip kelestarian hutan. Monitoring dilakukan dengan meninjau langsung kondisi tanaman tebu, pola tanam, serta kesesuaian praktik lapangan dengan ketentuan pengelolaan hutan lestari.
Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana memperkuat sinergitas antara Perhutani, pemerintah daerah, dan masyarakat desa hutan dalam mengembangkan pola agroforestry yang berkelanjutan. Melalui kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa mengesampingkan fungsi ekologis kawasan hutan.
Administratur KPH Purwodadi melalui Kepala BKPH Bandung, Sri Purwanto, menyampaikan bahwa kegiatan agroforestry tebu merupakan salah satu bentuk pemanfaatan kawasan hutan yang tetap mengedepankan aspek konservasi.
“Agroforestry tebu ini merupakan wujud sinergi nyata antara Perhutani, Dinas Pertanian, dan LMDH. Kami memastikan bahwa pemanfaatan lahan hutan tetap memperhatikan kaidah kelestarian, sehingga fungsi hutan sebagai penyangga lingkungan tetap terjaga, sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ungkap Sri Purwanto.
Sementara itu, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Grobogan, Muhamad Aufa, menegaskan pentingnya monitoring secara berkala guna menjaga kualitas dan produktivitas tanaman tebu.
“Kegiatan monitoring ini penting untuk memastikan bahwa budidaya tebu di kawasan hutan berjalan sesuai standar teknis pertanian. Kami juga mendorong penerapan praktik budidaya yang baik agar hasil produksi optimal serta mendukung program pengembangan tebu di Kabupaten Grobogan,” jelasnya.
Di sisi lain, Ketua LMDH Tanjungharjo Manunggal, Supadi, menyampaikan apresiasi atas pendampingan yang dilakukan oleh Perhutani dan Dinas Pertanian.
“Kami sebagai masyarakat desa hutan sangat merasakan manfaat dari program agroforestry ini. Selain menambah penghasilan, kami juga semakin sadar akan pentingnya menjaga hutan. Dengan adanya pendampingan seperti ini, kami bisa mengelola lahan dengan lebih baik dan tetap menjaga kelestarian hutan,” ujarnya.
Melalui kegiatan monitoring dan evaluasi ini, diharapkan pengelolaan agroforestry tebu di wilayah BKPH Bandung dapat terus berkembang secara berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat, serta tetap menjaga keseimbangan ekosistem hutan.
Editor : Aris